SINGAPURA, 20 Mei 2026 /PRNewswire/ — AstraZeneca dan Roche Diagnostics Asia Pacific menandatangani nota kesepahaman (MoU) selama tiga tahun untuk mempercepat pengembangan keahlian patologi digital dan meningkatkan kualitas layanan kanker di sembilan negara di Asia. Sebagai inisiatif pertama di Asia, kolaborasi ini mempercepat adopsi teknologi patologi digital dan komputasional berbasis AI untuk kanker payudara dan paru-paru melalui program edukasi dan pelatihan, serta meningkatkan pengujian penanda biologis (biomarker) kedua jenis penyakit tersebut.

Left to right: Eldana Sauran, Arun Krishna, Lance Little and Christopher Chiam (Source: AstraZeneca)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Secara global, hampir separuh kasus kanker payudara[1] dan lebih dari 60% diagnosis baru[2] kanker paru terjadi di Asia. Pada kanker payudara, hampir separuh perempuan Asia memiliki tingkat HER2[3] yang rendah. Sementara itu, biomarker TROP2 ditemukan pada 82-90% kasus kanker paru non-sel kecil (non-small cell lung cancer/NSCLC)[4]. Kondisi ini menunjukkan pentingnya pengujian biomarker yang presisi untukmenentukan terapi yang paling tepat bagi pasien. Penilaian TROP2 berbasis AI juga dapat mengidentifikasi pasien yang berpotensi memberikan respons lebih baik terhadap terapi antibody drug conjugate.
Kolaborasi ini bertujuan membantu mengatasikesenjangan antara pengetahuan dan penggunaan teknologi patologi berbasis AI di Asia. Saat ini, hanya 17% tenaga medis yang mengaku sangat memahami teknologi patologi digital, sementara penggunaan tes patologi komputasional di fasilitas klinis masih tergolong rendah.[5] Sementara itu, di Filipina sendiri, sebanyak 60% dokter onkologi melaporkan bahwa keterbatasan akses sarana pengujian biomarker menjadi kendala.[6]
"Sistem layanan kesehatan yang kuat menjadi bagian penting dari upaya AstraZeneca dalam meningkatkan layanan kanker di Asia," ujar Arun Krishna, Area Vice President, Asia, AstraZeneca. "Melalui kolaborasi dengan Roche Diagnostics Asia Pacific, kami turut berperan aktif dalam mengatasi kesenjangan layanan diagnostik yang masih terjadi di berbagai negara di kawasan tersebut. Dengan memperluas program edukasi dan pemanfaatan patologi berbasis AI, AstraZeneca mendorong integrasi diagnostik presisi dalam penanganan pasien, sehingga akan semakin banyak pasien yang memperoleh diagnosis dan terapi yang tepat sejak tahap awal."
Patologi berbasis AI dapat membantu menstandardisasi proses diagnosis, mengurangi subjektivitas, dan meningkatkan akurasi hasil pemeriksaan. Sejumlah studi menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi AI untuk mendukung tenaga medis dapat[7]:
- Meningkatkan akurasi diagnosis hingga 5%, memangkas waktu analisis kasus penyakit hingga 36%.
- Meningkatkan konsistensi interpretasi diagnosis hingga 15% dengan membantu mengurangi beban kerja dan bias subjektif manusia.
- Memperluas akses terapi berbasis target dengan melakukan reklasifikasi 24% kasus yang sebelumnya dikategorikan HER2-negatif menjadi HER2-rendah.
- Mendukung identifikasi pasien yang lebih presisi melalui teknologi diagnostik pendamping (companion diagnostic) berbasis AI pertama untuk TROP2.[8]
Ketika menjalani terapi yang tepat, pasien memperoleh manfaat klinis seperti peningkatan tingkat respons, memperpanjang kelangsungan hidup tanpa progresi penyakit (progression-free survival/PFS), [9] serta penggunaan sumber daya layanan kesehatan yang lebih optimal.
"Diagnosis yang cepat dan akurat merupakan fondasi utama dalam layanan kanker yang efektif. Di Asia Pasifik, kesenjangan akses terhadap diagnostik berbasis AI memengaruhi hasil pengobatan pasien," kata Lance Little, Head of Region, Roche Diagnostics Asia Pacific. "Melalui kolaborasi ini, kami memperkuat kapabilitas diagnostik dan mempercepat adopsi patologi digital di berbagai sistem layanan kesehatan. Langkah ini diharapkan dapat menghadirkan diagnosis yang lebih konsisten dan andal sekaligus meningkatkan standar layanan bagi pasien kanker paru dan kanker payudara,"jelasnya.
Kolaborasi ini berlangsung di Singapura, Taiwan, Korea Selatan, Thailand, Malaysia, India, Indonesia, Vietnam, dan Filipina melalui berbagai program edukasi dan pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan sistem layanan kesehatan di masing-masing negara. Inisiatif tersebut turut mendukung percepatan integrasi patologi komputasional berbasis AI dalam alur kerja diagnostik.
Disusun dan didanai AstraZeneca, rilis berita ini menyampaikan informasi, bukan sarana promosi.
Z2-7573 | DOP: Mei 2026
|
Referensi: |
|
1. Mengxia Fu, et al. The Breast, Volume 79, 2025. |
|
2. Chiu, Chao-Hua et al. eClinicalMedicine, Volume 74, 10270 |
|
3. Yang, C., et al. (2025). Therapeutic advances in medical oncology, 17, 17588359251353083. |
|
4. Kuo, P., et al. (2025). PloS one, 20(4), e0321555.
Rilisbisnis.com mendukung program publikasi press release di media khusus ekonomi & bisnis untuk memulihankan citra yang kurang baik ataupun untuk meningkatan reputasi para pebisnis/entrepreneur, korporasi, institusi ataupun merek/brand produk.
|
|
5. Aggarwal, C., et al. (2025). Diagnostics (Basel, Switzerland), 15(19), 2527. |
|
6. Alberto, I. et al. (2023). The Lancet regional health. Western Pacific, 32, 100667. https://doi.org/10.1016/j.lanwpc.2022.100667 |
|
7. Rajadurai, P. et al. (2025). Annals of Oncology. 36. S461. 10.1016/j.annonc.2025.08.1037. |
|
8. BioPharma Asia. 2026. Roche granted FDA Breakthrough device designation for AI-driven companion diagnostic for non-small cell lung cancer. https://biopharma-asia.com/sections/roche-granted-fda-breakthrough-device-designation-for-ai-driven-companion-diagnostic-for-non-small-cell-lung-cancer/ |
|
9. Fountzilas E, et al. Genome Med. 2022 Aug 31;14(1):101. |























