Laporan Terbaru Ungkap Sebagian Besar Keterlambatan Penanganan Stroke di Indonesia Terjadi Sebelum Pasien Tiba di Rumah Sakit yang Tepat

Avatar photo

- Pewarta

Kamis, 3 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pakar di Indonesia mendorong sistem rujukan berdasarkan kemampuan fasilitas kesehatan, investasi yang lebih besar pada tim terlatih untuk menangani stroke, serta memperluas cakupan asuransi untuk mengurangi kesenjangan layanan antara Indonesia Barat dan Indonesia Timur.

JAKARTA, Indonesia, Sept. 3, 2026 /PRNewswire/ — Keterlambatan yang terjadi dalam sistem layanan kesehatan sebelum pasien mendapatkan penanganan medis masih menjadi hambatan terbesar untuk layanan stroke di Indonesia. Temuan ini terungkap dalam laporan terbaru Strengthening Stroke System Readiness Across ASEAN yang diluncurkan Siemens Healthineers dalam ajang Hospital Management Asia 2026 di Bangkok, Thailand.


ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Laporan tersebut merangkum pandangan dari tujuh pakar kesehatan terkemuka asal Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Salah satunya, Dr. dr. Affan Priyambodo, Sp. BS (K), Subsp. N-Vas, Direktur Medik Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito, Yogyakarta. Menurut para pakar, kendala utama dalam penanganan stroke di Indonesia lebih banyak berkaitan dengan sistem layanan medis ketimbang aspek klinis. Banyak waktu yang terbuang dalam proses rujukan antar-rumah sakit dan pengurusan asuransi sebelum pasien mendapatkan penanganan medis.

Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan disabilitas di kawasan Asia Tenggara. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kawasan Asia Tenggara menyumbang lebih dari 40% kasus kematian akibat stroke di dunia[1] dan menanggung hampir setengah dari total beban stroke di negara-negara berkembang. Sekitar sepertiga penyintas stroke mengalami disabilitas berat dalam jangka panjang[2]. Di Indonesia, stroke merupakan penyebab kematian utama[3]. Beban penyakit ini semakin besar seiring bertambahnya penduduk lanjut usia[4], sementara akses terhadap layanan spesialis masih belum merata antara Indonesia Barat dan Indonesia Timur.

"Setiap sistem layanan kesehatan di Asia Tenggara berada pada tahap yang berbeda-beda dalam pengembangan layanan stroke. Namun, banyak tantangan yang dihadapi sebenarnya sama," ujar Fabrice Leguet, Managing Director, ASEAN, dan Head of Enterprise Services, Asia Pasifik & Jepang, Siemens Healthineers.

"Di Indonesia, tantangannya adalah memastikan jenis stroke yang dialami pasien dapat diketahui secara tepat dan cepat. Hasil penanganan sangat bergantung pada seberapa baik seluruh sistem layanan stroke bekerja secara terpadu, mulai dari mengenali gejala dan mengaktifkan layanan medis darurat hingga diagnosis, penanganan, dan rehabilitasi yang cepat," ujar Alfred Fahringer, Presiden Direktur Siemens Healthineers di Indonesia.

Keterlambatan Sistem Masih Menjadi Tantangan Terbesar di Indonesia

Indonesia telah mencatat kemajuan besar melalui Program Pengampuan Stroke, program nasional yang bertujuan memperkuat kapasitas layanan stroke di seluruh 514 kabupaten dan kota. Hingga April 2026, sebanyak 231 kabupaten/kota telah memiliki kemampuan memberikan obat pelarut bekuan darah (thrombolysis-capable) sebagai standar penanganan darurat stroke. Sebanyak 81 kabupaten/kota lainnya telah memiliki kemampuan yang lebih maju untuk mengangkat bekuan darah atau menangani aneurisma otak (thrombectomy-capable). Pemerintah menargetkan cakupan layanan trombolisis secara nasional mencapai 100% pada 2027.

Namun, ketersediaan layanan tersebut masih sangat timpang. Hampir seluruh kabupaten/kota yang memiliki kemampuan trombektomi berada di wilayah barat Indonesia, terutama Jawa, sementara masyarakat di Indonesia Timur masih menghadapi keterbatasan akses. Akibatnya, pasien yang mengalami stroke berat sering kali harus dirujuk dari rumah sakit tempat mereka pertama kali mendapatkan pertolongan medis ke fasilitas yang mampu melakukan trombektomi. Proses rujukan ini menjadi salah satu sumber utama keterlambatan dalam penanganan stroke. Keterlambatan bahkan dapat terjadi sebelum proses rujukan dimulai. Rendahnya kesadaran masyarakat mengenai gejala stroke membuat kondisi tersebut kerap terlambat dikenali. Di sisi lain, belum adanya protokol layanan medis darurat (emergency medical services/EMS) dan triase yang terpadu membuat banyak pasien tiba di fasilitas kesehatan tanpa rencana penanganan yang jelas. Alur kerja di rumah sakit juga sangat berbeda-beda.

Faktor pembiayaan turut menambah keterlambatan. BPJS Kesehatan, penyelenggara program jaminan kesehatan nasional, memberikan cakupan layanan yang luas. Namun, kesenjangan pembiayaan untuk penanganan stroke darurat dan layanan khusus masih memperlambat akses sebagian pasien meski fasilitas dan kapasitas penanganannya tersedia.

Model Nasional dengan Inovasi Lokal

Tidak ada satu model yang bisa diterapkan begitu saja di semua negara. Namun, laporan ini menyoroti sejumlah pendekatan yang telah terbukti berhasil menjawab tantangan layanan stroke. Di Yogyakarta dan Bali, model hub-and-spoke menunjukkan bahwa pemusatan layanan stroke dapat meningkatkan hasil penanganan di wilayah cakupan yang lebih luas. Di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito, Yogyakarta, prosedur stroke vaskular terbuka dan endovaskular ditangani oleh satu tim terpadu. Model tersebut mengurangi ketergantungan pada satu jenis keahlian medis sekaligus turut memastikan layanan tetap berjalan sepanjang waktu.

AI Ikut Mempercepat dan Mengintegrasikan Penanganan Stroke

Di kawasan Asia Tenggara, kecerdasan buatan (AI) dapat menjadi salah satu pendukung penting dalam pengembangan layanan stroke yang lebih terintegrasi. Hal ini terutama relevan bagi Indonesia sebagai negara dengan kondisi geografis yang membuat banyak pasien harus menempuh jarak jauh untuk mendapatkan layanan stroke. Jaringan tele-stroke berbasis AI dapat membantu rumah sakit perujuk melalui interpretasi hasil pencitraan medis secara cepat dan dukungan dalam pengambilan keputusan. Dengan cara ini, keahlian dokter spesialis dapat menjangkau lebih banyak pasien di Indonesia Timur. Meski demikian, para pakar menekankan bahwa teknologi akan bekerja efektif jika menjadi bagian dari alur klinis yang dirancang dengan baik. Penggunaannya juga perlu didukung oleh tenaga kesehatan terlatih, jaringan rujukan yang kuat, serta protokol penanganan yang terstandardisasi.

Lima Prioritas untuk Memperkuat Kesiapan Layanan Stroke

Rilisbisnis.com mendukung program publikasi press release di media khusus ekonomi & bisnis untuk memulihankan citra yang kurang baik ataupun untuk meningkatan reputasi para pebisnis/entrepreneur, korporasi, institusi ataupun merek/brand produk.

Selain memperluas infrastruktur, para pakar sepakat bahwa tahap berikutnya dalam pengembangan layanan stroke di Indonesia bergantung pada seberapa efektif pasien diarahkan melalui sistem yang telah tersedia. Prioritas yang perlu segera dilakukan di Indonesia meliputi:

  1. Memperkuat alur rujukan dan koordinasi antar-rumah sakit untuk mengurangi keterlambatan pemindahan pasien
  2. Mengubah sistem rujukan berbasis jarak menjadi berbasis kemampuan fasilitas kesehatan, merujuk pasien secara langsung ke pusat layanan yang memiliki kemampuan trombektomi.
  3. Berinvestasi pada perawat neurointervensi yang terlatih seiring dengan penambahan peralatan baru
  4. Memandang jaringan layanan stroke sebagai satu kesatuan, memastikan pusat layanan komprehensif memiliki kemampuan penanganan medis setiap saat
  5. Meningkatkan kemampuan masyarakat mengenali tanda-tanda peringatan FAST.

"Penanganan stroke bergantung pada rangkaian keputusan dan tindakan medis yang harus dimulai bahkan sebelum pasien tiba di rumah sakit. Tidak ada satu institusi atau teknologi yang dapat memperkuat rangkaian tersebut sendirian," ujar Fahringer. "Model hub-and-spoke yang kami lihat di Yogyakarta dan Bali menunjukkan bagaimana pendekatan tersebut dapat diterapkan. Prinsip yang sama perlu diperluas menjadi jaringan rujukan nasional yang benar-benar terintegrasi agar kondisi geografis tidak lagi menentukan tingkat layanan yang diterima pasien."

Baca laporan selengkapnya di tautan ini.

Kunjungi Siemens Healthineers Press Center.

Berlangganan newsletter "Medtech matters" di LinkedIn.

Siemens Healthineers menghadirkan berbagai terobosan dalam bidang layanan kesehatan untuk semua orang, di mana saja, secara berkelanjutan. Siemens Healthineers menyediakan peralatan, solusi, dan layanan kesehatan global yang beroperasi di lebih dari 180 negara dan memiliki perwakilan langsung di lebih dari 70 negara. Siemens Healthineers terdiri atas Siemens Healthineers AG, perusahaan yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Frankfurt, Jerman, dengan kode SHL, beserta anak-anak usahanya. Sebagai perusahaan teknologi medis terkemuka, Siemens Healthineers berkomitmen memperluas akses layanan kesehatan bagi masyarakat yang belum mendapatkan layanan yang memadai di seluruh dunia dan berupaya mengatasi berbagai penyakit yang paling mengancam kehidupan manusia. Siemens Healthineers bergerak di bidang pencitraan medis, diagnostik, perawatan kanker, dan terapi minimal invasif yang didukung teknologi digital dan kecerdasan buatan. Pada tahun buku 2025 yang berakhir pada 30 September 2025, Siemens Healthineers memiliki sekitar 74.000 karyawan di seluruh dunia dan mencatat pendapatan sekitar €23,4 miliar. Informasi lebih lanjut tersedia melalui situs resmi siemens-healthineers.com.

[1] Pandian JD, Padma Srivastava MV, Aaron S, et al. The burden, risk factors and unique etiologies of stroke in South-East Asia Region (SEAR). Lancet Reg Health Southeast Asia. 2023; 17:100290. doi:10.1016/j.lansea.2023.100290

[2] Ng JC, Churojana A, Pongpech S, et al. Current state of acute stroke care in Southeast Asian countries. Interv Neuroradiol. 2019; 25(3): 291-296. doi:10.1177/1591019918811804

[3] Health Development Policy Agency (BKPK), Ministry of Health, Republic of Indonesia. Utilizing Disease Burden Data for Health Policy Transformation, 11 November 2025, citing Global Burden of Disease (GBD) 2023 data, Institute for Health Metrics and Evaluation

[4] Statistics Indonesia (BPS). 2025 Intercensal Population Survey (SUPAS), May 5, 2026

 

Berita Terkait

KONE Indonesia menetapkan standar baru di industri sebagai perusahaan pertama yang meraih Sertifikasi Green Label Platinum
Texas Cardiac Arrhythmia Institute di St. David’s Medical Center menjadi institusi pertama di AS yang berpartisipasi dalam uji coba sistem pemetaan inovatif dan ablasi medan listrik berdenyut
Sceye dan SoftBank Corp. Selesaikan Demonstrasi Konektivitas Stratosfer di Jepang, Memajukan Komersialisasi HAPS
TEATER BESAR TAMAN ISMAIL MARZUKI SEDERHANAKAN ALUR KERJA WIRELESS DENGAN SENNHEISER SPECTERA
Xinhua Silk Road: Model Kemitraan yang Digagas Hunan Buka Jalur Kerja Sama Ekonomi dan Perdagangan Tiongkok-Afrika
GONEO Percepat Ekspansi Global dengan Memperluas Kehadiran di Berbagai Pameran Industri Terkemuka
CGTN: Memasuki Usia 25 Tahun, SCO Buka Peluang Baru bagi Pembangunan Regional
RAVEN2 BUKA PRAREGISTRASI UNTUK FRESH START SERVER “ZERO”

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 05:19 WIB

Laporan Terbaru Ungkap Sebagian Besar Keterlambatan Penanganan Stroke di Indonesia Terjadi Sebelum Pasien Tiba di Rumah Sakit yang Tepat

Kamis, 3 September 2026 - 03:00 WIB

KONE Indonesia menetapkan standar baru di industri sebagai perusahaan pertama yang meraih Sertifikasi Green Label Platinum

Kamis, 3 September 2026 - 02:37 WIB

Texas Cardiac Arrhythmia Institute di St. David’s Medical Center menjadi institusi pertama di AS yang berpartisipasi dalam uji coba sistem pemetaan inovatif dan ablasi medan listrik berdenyut

Kamis, 3 September 2026 - 02:31 WIB

Sceye dan SoftBank Corp. Selesaikan Demonstrasi Konektivitas Stratosfer di Jepang, Memajukan Komersialisasi HAPS

Rabu, 2 September 2026 - 15:44 WIB

Xinhua Silk Road: Model Kemitraan yang Digagas Hunan Buka Jalur Kerja Sama Ekonomi dan Perdagangan Tiongkok-Afrika

Berita Terbaru